Dalam hitungan detik, Lynx berhasil menyusul Huo Jun dan teman-temannya yang sedang membawa Jelita. Tubuhnya melesat seperti angin, tanpa suara dan tanpa hambatan. Kemunculannya yang tiba-tiba mengagetkan Huo Jun dan teman-temannya. Mereka semua sudah merasa ketakutan sejak mendengar cerita Huo Jun tentang kemungkinan Xiao Lin adalah seorang kultivator. Dan kemunculan Lynx di depan mereka hanya memperkuat dugaan tersebut.

Wajah Huo Jun memucat, ia langsung mundur setengah langkah sambil berteriak, "Xiao Lin! Bagaimana mungkin kamu bisa selamat dari racun itu?"

"Racun?" tanya Lynx dengan nada heran.

"Aku kira rasa tidak enak di lidahku saat bangun disebabkan oleh resep obat yang diberikan Jelita. Ternyata mereka memberiku racun," batin Lynx.

Racun tidak akan pernah menjadi ancaman bagi Lynx jika kekuatannya tidak tersegel. Namun, dalam kondisi segel seperti sebelumnya, racun masih dapat memengaruhi tubuhnya, meskipun tubuhnya yang istimewa akan segera memulihkan dirinya dengan cara yang luar biasa. Bahkan racun paling mematikan sekalipun hanya memberikan luka sementara, karena setiap sel dalam tubuhnya dirancang untuk bertahan dan pulih dari kerusakan.

Ketika dia berada di dalam batu meteor, pengalaman yang dialami Lynx begitu menyiksa. Tubuhnya serasa terbakar oleh api yang tidak terlihat, dicabik-cabik tanpa ampun, dan disusun kembali berulang kali oleh kekuatan misterius yang tidak dia pahami. Rasa sakit itu begitu hebat, namun setiap kali tubuhnya hancur, ia segera direkonstruksi dengan lebih kuat.

Setelah rasa sakit itu perlahan menghilang, Lynx dapat berpikir lebih jernih. Dia mulai menganalisis apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya selama proses itu. Dugaan pertama yang muncul dalam benaknya adalah bahwa pil buatan Milo yang memberinya kekuatan super, seperti yang diceritakan Lala, mengandung sel genetika khusus dengan kemampuan regenerasi tingkat tinggi. Sel itu berperan besar dalam perubahan tubuhnya.

Sebelum tubuhnya terserap kedalam batu meteor, akar spiritualnya menyerap banyak energi batu meteor sehingga kekuatannya meningkat drastis, dan saat masuk ke dalam meteor, tubuhnya yang meningkat kekuatannya, memiliki regenerasi yang juga meningkat, menyebabkan tubuhnya semakin bereaksi dengan kejadian yang dia alami didalam batu meteor.

Selama proses pembentukan ulang itu, Lynx juga merasa yakin jika sebagian besar fisik batu meteor telah bergabung dengan tubuhnya. Hal ini yang menyebabkan sel-sel tubuhnya memiliki kemampuan yang sama dengan benda yang berdetak seperti jantung, yang kini berdiri berdampingan dengan akar spiritualnya dan dantian miliknya. Sel tubuhnya mampu menyerap dan menghasilkan energi yang menyuplai tubuhnya sendiri.

Lynx menatap lurus ke arah Huo Jun, membuat pria itu merasa seperti ditikam oleh tatapan dingin dan tanpa emosi. Teman-teman Huo Jun yang lain ikut mundur dengan waspada, tangan mereka meraba senjata yang terselip di pinggang.

"Kamu benar-benar keras kepala," ujar Huo Jun sambil menghunus pedangnya. Dia melawan rasa takutnya dan menyerang Lynx. "Kali ini aku sendiri yang akan memastikan kau mati!"

Dia menyerang dengan kecepatan tinggi, pedangnya berkilauan di bawah sinar bulan. Lynx tetap berdiri tenang, tidak sedikitpun bergerak dari tempatnya. Ketika pedang Huo Jun hampir menyentuh lehernya, Lynx hanya mengangkat satu jari dan menahannya dengan mudah.

"Cuma segini?" ujar Lynx dengan nada datar, membuat Huo Jun semakin kesal.

Huo Jun melancarkan serangan bertubi-tubi, dibantu oleh teman-temannya yang ikut menghunus senjata, meski rasa takut masih menghantui hati mereka. Namun, semua serangan itu tidak berarti bagi Lynx. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa, menghindari setiap tebasan dan tusukan seolah sedang berjalan santai.

"Aku sudah cukup bersabar," kata Lynx akhirnya, menghentikan serangan mereka dengan satu gerakan tangan. Pedang-pedang mereka terpental jauh, melayang hingga menancap di tanah beberapa meter jauhnya.

"Berhenti, jangan bergerak atau aku bunuh wanita ini," ancam salah seorang pria yang sebelumnya menggendong Jelita, memegangi tubuh Jelita dan menodongkan senjatanya ke arah lehernya.

"Bagus. Menyerahlah, Xiao Lin, jika kamu ingin istrimu selamat," kata Huo Jun dengan napas terengah-engah.

Lynx diam, tidak menyahuti kata-kata mereka. Ia menatap tajam ke arah pria yang mengancamnya dan menyipitkan matanya. Sepasang sinar tak kasatmata keluar dari matanya dan mengenai tangan yang memegang pedang.

"Ah..." teriak pria tersebut kesakitan. Tiba-tiba, ia merasakan tangannya yang memegang pedang seolah tersulut api, membuatnya terkejut dan senjatanya terlepas dari genggamannya.

Dalam sekejap, Lynx bergerak, dan Jelita sudah berada dalam rangkulannya, meninggalkan rasa kaget dan ketakutan di wajah mereka semua.

Huo Jun terengah-engah, napasnya tak beraturan. Ia menyadari bahwa perbedaan kekuatan mereka seperti langit dan bumi. "K-kau... Siapa sebenarnya dirimu?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Kalian tidak perlu tahu," jawab Lynx dengan nada dingin. "Aku tidak suka meninggalkan masalah, jadi pergilah. Jika kalian berani menyentuhnya lagi..." Lynx melirik sekilas ke arah Jelita yang masih pingsan dalam rangkulannya. "Aku pastikan, itu akan menjadi hal terakhir yang kalian lakukan di dunia ini."

Huo Jun dan teman-temannya tidak perlu diingatkan dua kali. Mereka segera melarikan diri dengan ketakutan, meninggalkan senjata mereka. Lynx mengangkat tubuh Jelita dengan hati-hati dan membawanya pergi dari tempat itu.

"Ke mana aku harus membawanya sekarang? Rumahnya sudah kuhancurkan," batin Lynx sambil memandang wajah Jelita yang masih tidak sadarkan diri.

"Pondok dihutan! Bukankah Jelita sering mengajakku tidur di sana jika mencari tanaman herbal hingga malam?" Lynx segera menggendong Jelita dan berlari menuju pondok, menggunakan mata tembus pandangnya untuk melihat dalam kegelapan. Dalam sekejap mata, ia sudah tiba di depan pondok.

Lynx menggunakan kekuatan laser dari matanya untuk menyalakan api obor yang terpasang di dalam pondok sebagai penerangan. Saat ia memperhatikan wajah Jelita, Lynx berusaha menahan tawanya. Rambut panjang Jelita terlihat sangat kusut akibat dibawa lari dengan kecepatan tinggi. "Semoga dia tidak marah esok saat mengetahuinya," pikirnya sambil tersenyum.

Di pondok, Lynx meletakkan Jelita di tempat tidur dan memeriksa keadaannya. "Ternyata mereka membiusnya. Untung aku segera sadar. Jika tidak..." Lynx tidak dapat membayangkan kemungkinan yang terjadi.

Lynx segera menyalurkan energinya untuk mengeluarkan sisa asap yang masih tertahan di paru-paru Jelita. Setelah memastikan kondisinya sudah aman dan tidak ada luka serius, Lynx memandang wajah Jelita dan mengelus pipinya dengan lembut. "Dia bertambah cantik sejak meminum ramuan kecantikan. Dia pasti sangat menderita selama beberapa tahun ini karena harus menahan godaan dan hinaan dari orang-orang yang tertarik padanya. Aku akan membuatnya senang dengan dunia baru ini untuk membalasnya," batin Lynx.

Ia teringat kembali, sejak pindah ke dunia ini, Jelita yang sejak kecil tidak mengenal peradaban, tidak mengetahui adanya sistem jual beli, merasakan kaget dan kebingungan. Mereka tidak memiliki uang, ditambah dengan kondisi Lynx yang dianggap sakit, sehingga setiap koin yang didapatkan Jelita dipergunakan demi Lynx. Itu membuatnya tidak memiliki sesuatu yang bisa dinikmatinya dengan layak di dunia ini.

"Aku tahu apa yang sangat kamu inginkan, tetapi aku sudah memiliki seseorang dihatiku. Aku akan membalas mu dengan memberikan yang terbaik untukmu," pikir Lynx dengan tekad.

Lynx kemudian duduk bersila di sudut ruangan dan memulai meditasi, untuk menyatukan informasi selama dia hilang ingatan.

Saat bermeditasi, pikirannya kembali memutar apa yang ia tangkap melalui kepekaannya saat mencari Jelita dan Leena. Lynx merenungkan kejanggalan yang baru ia sadari.

"Tadi, ketika aku menyebarkan kesadaranku untuk mencari mereka... Aku merasakan begitu banyak kehidupan di benua ini. Miliaran manusia, hewan, dan tumbuhan spiritual. Ini jelas dunia kultivasi," pikir Lynx. "Namun ada sesuatu yang tidak masuk akal..."

Dia mengingat dengan jelas, di antara miliaran manusia, terdapat sebagian besar manusia biasa dan sebagian lagi yang mampu berkultivasi, dengan tingkatan yang bervariasi. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki energi yang cukup kuat.

"Tapi mengapa," gumamnya, matanya terbuka sedikit, memancarkan cahaya keemasan, "di benua sebesar ini, aku hanya merasakan tiga orang yang kekuatannya setingkat immortal? Bukankah seharusnya ada lebih banyak? Jika dibandingkan dengan jumlah manusianya, ini sangat tidak wajar."

